TEORI KOMUNIKASI - DOSEN PENGAMPU KARINA JAYANTI •Annisa Nur Astuti •Kelas : 1BA05 •Npm : 21928033
Tradisi Retorika
Pengertian Tradisi Retorika
Tradisi Retorika didefinisikan sebagai seni berbicara yang efektif dan persuasif. Tradisi ini menganalisis ‘keindahan’ dan ‘estetika’ dari suatu wacana baik berupa pidato (berbicara/lisan) maupun teks (tulisan). Kata kunci dari Tradisi Retorika adalah persuasif, argumen, dan speechmaking.
Arti Retorika
Secara etimologis, retorika berasal dari bahasa Yunani, “rhetrike” yang berarti seni kemampuan berbicara yang dimiliki seseorang. Aristoteles dalam bukunya “Rhetoric” mengemukakan pengertian retorika, yaitu kemampuan untuk memilih dan menggunakan bahasa dalam situasi tertentu secara efektif untuk mempersuasi orang lain. Sedangkan menurut Gorys Keraf, retorika adalah suatu istilah secara tradisional yang diberikan pada suatu teknik pemakaian bahasa sebagai seni yang didasarkan pada suatu pengetahuan yang tersusun baik. Menurut P. Dori Wuwur Hendrikus, retorika adalah kesenian untuk berbicara baik yang digunakan dalam proses komunikasi antarmanusia. Retorika berarti kesenian untuk berbicara dengan baik (kunst, gut zu reden atau ars bene dicendi), yang dicapai berdasarkan bakat alam (talenta) dan keterampilan teknis (ars, techne). Kesenian berbicara ini bukan hanya berarti berbicara lancar tanpa pikiran yang jelas dan tanpa isi, melainkan suatu kemampuan untuk berbicara dan berpidato secara singkat, jelas, padat, dan mengesankan. Retorika modern mencakup ingatan yang kuat, daya kreasi dan fantasi yang tinggi, teknik pengungkapan yang tepat dan daya pembuktian serta penilaian yang tepat. Retorika modern adalah gabungan yang serasi antara pengetahuan, pikiran, kesenian dan kesanggupan berbicara. Dalam bahasa populer, retorika berarti pada tempat yang tepat, pada waktu yang tepat, atas cara yang lebih efektif, mengucapkan kata-kata yang tepat, benar dan mengesankan.
Sejarah Tradisi Retorika
SEJARAH RETORIKA
Retorika lahir sebagai seni yang dipelajari dimulai dari abad 5 SM ketika kaum sophis Yunani mengembara dari satu tempat ke tempat lain untuk mengajarkan pengetahuan tentang politik dengan penekanan terutama pada kemampuan berpidato. Pada waktu itu, retorika memiliki beberapa fungsi (Sunarjo, 1983:55), yaitu untuk mencapai kebenaran atau kemenangan bagi suatu pihak, untuk meraih kekuasaan, sebagai alat persuasi yang digunakan untuk mempengaruhi orang lain.
TOKOH-TOKOH RETORIKA
1.GEORGIAS ( dari kaum sosialis ) Georgias adalah seorang guru retorika yang pertama. Ia membuka sekolah retorika yang mengajarkan dimensi bahasa yang puitis dan teknik berbicara impromptu ( berbicara tanpa persiapan ).
2.PROTAGORAS Protagoras adalah seseorang yang menyatakan bahwa kemahiran berbicara bukan untuk kemenangan melainkan demi keindahan bahasa.
3.SOKRATES Sokrates menyatakan bahwa retorika adalah demi kebenaran. Metode Sokrates dalam beretorika adalah :
a)Memisahkan pemikiran salah dari yang tepat, yaitu dengan jalan berpikir mendalam dan memperhatikan suatu persoalan dengan sungguh-sungguh agar dapat menemukan suatu “nilai universal” yang ada dalam masyarakat.
b)Bertanya ( dialog ) dan menyelidiki argumentasi yang diberikan kepadanya.
4.ISOKRATES Isokrates mendirikan sekolah retorika tahun 931 SM dengan penekanan pada penggunaan kata-kata dalam susunan yang jernih tapi tidak berlebih-lebihan, rentetan anak kalimat yang seimbang dengan pergeseran suara dan gagasan yang lancar.
5.PLATO Menurut Plato, retorika penting sebagai model pendidikan, sarana mencapai kedudukan dalam pemerintahan, dan mempengaruhi rakyat. Beberapa karangannya yang terkenal : i.Nomoi yaitu tulisan berupa jawaban atas bukunya ‘Politikos’ yang mengupas tentang undang-undang. ii.Dialogues berbicara tentang pembuatan kerangka retorika yang dianggap benar yaitu berkaitan dengan kebenaran dan moral.
6.ARISTOTELES Menurut Aristoteles, tujuan retorika adalah membuktikan maksud pembicaraan atau menampakkan pembuktian. Ia menulis 3 jilid buku berjudul De Arte Rhetorica, yang diantaranya berisi 5 tahap penyusunan pidato.
Asumsi Tradisi Retorika
ASUMSI-ASUMSI TEORI RETORIKA
Ada 2 asumsi yang terdapat teori retorika, yaitu :
Public speaker atau pembicara yang efektif perlu mempertimbangkan khalayak mereka. Asumsi ini mengarah kepada konsep analisis khalayak (audience analysis).
Public speaker atau pembicara yang efektif menggunakan sejumlah bukti-bukti dalam presentasinya. Bukti-bukti yang dimaksudkan ini merujuk pada cara-cara persuasi yaitu ethos, pathos dan logos.4
Ethos adalah karakter, inteligensi dan niat baik yang dipersepsikan dari seorang pembicara. Hal ini bisa di pelajari dan dibiasakan.
Logos adalah bukti logis atau penggunaan argumen dan bukti, rasionalisasi dan wacana yang di gunakan dalam sebuah pidato.
Pathos adalah bukti emosional atau emosi yang dimunculkan dari para anggota khalayak. 2
Pengertian Tradisi Retorika
Tradisi Retorika didefinisikan sebagai seni berbicara yang efektif dan persuasif. Tradisi ini menganalisis ‘keindahan’ dan ‘estetika’ dari suatu wacana baik berupa pidato (berbicara/lisan) maupun teks (tulisan). Kata kunci dari Tradisi Retorika adalah persuasif, argumen, dan speechmaking.
Arti Retorika
Secara etimologis, retorika berasal dari bahasa Yunani, “rhetrike” yang berarti seni kemampuan berbicara yang dimiliki seseorang. Aristoteles dalam bukunya “Rhetoric” mengemukakan pengertian retorika, yaitu kemampuan untuk memilih dan menggunakan bahasa dalam situasi tertentu secara efektif untuk mempersuasi orang lain. Sedangkan menurut Gorys Keraf, retorika adalah suatu istilah secara tradisional yang diberikan pada suatu teknik pemakaian bahasa sebagai seni yang didasarkan pada suatu pengetahuan yang tersusun baik. Menurut P. Dori Wuwur Hendrikus, retorika adalah kesenian untuk berbicara baik yang digunakan dalam proses komunikasi antarmanusia. Retorika berarti kesenian untuk berbicara dengan baik (kunst, gut zu reden atau ars bene dicendi), yang dicapai berdasarkan bakat alam (talenta) dan keterampilan teknis (ars, techne). Kesenian berbicara ini bukan hanya berarti berbicara lancar tanpa pikiran yang jelas dan tanpa isi, melainkan suatu kemampuan untuk berbicara dan berpidato secara singkat, jelas, padat, dan mengesankan. Retorika modern mencakup ingatan yang kuat, daya kreasi dan fantasi yang tinggi, teknik pengungkapan yang tepat dan daya pembuktian serta penilaian yang tepat. Retorika modern adalah gabungan yang serasi antara pengetahuan, pikiran, kesenian dan kesanggupan berbicara. Dalam bahasa populer, retorika berarti pada tempat yang tepat, pada waktu yang tepat, atas cara yang lebih efektif, mengucapkan kata-kata yang tepat, benar dan mengesankan.
Sejarah Tradisi Retorika
SEJARAH RETORIKA
Retorika lahir sebagai seni yang dipelajari dimulai dari abad 5 SM ketika kaum sophis Yunani mengembara dari satu tempat ke tempat lain untuk mengajarkan pengetahuan tentang politik dengan penekanan terutama pada kemampuan berpidato. Pada waktu itu, retorika memiliki beberapa fungsi (Sunarjo, 1983:55), yaitu untuk mencapai kebenaran atau kemenangan bagi suatu pihak, untuk meraih kekuasaan, sebagai alat persuasi yang digunakan untuk mempengaruhi orang lain.
TOKOH-TOKOH RETORIKA
1.GEORGIAS ( dari kaum sosialis ) Georgias adalah seorang guru retorika yang pertama. Ia membuka sekolah retorika yang mengajarkan dimensi bahasa yang puitis dan teknik berbicara impromptu ( berbicara tanpa persiapan ).
2.PROTAGORAS Protagoras adalah seseorang yang menyatakan bahwa kemahiran berbicara bukan untuk kemenangan melainkan demi keindahan bahasa.
3.SOKRATES Sokrates menyatakan bahwa retorika adalah demi kebenaran. Metode Sokrates dalam beretorika adalah :
a)Memisahkan pemikiran salah dari yang tepat, yaitu dengan jalan berpikir mendalam dan memperhatikan suatu persoalan dengan sungguh-sungguh agar dapat menemukan suatu “nilai universal” yang ada dalam masyarakat.
b)Bertanya ( dialog ) dan menyelidiki argumentasi yang diberikan kepadanya.
4.ISOKRATES Isokrates mendirikan sekolah retorika tahun 931 SM dengan penekanan pada penggunaan kata-kata dalam susunan yang jernih tapi tidak berlebih-lebihan, rentetan anak kalimat yang seimbang dengan pergeseran suara dan gagasan yang lancar.
5.PLATO Menurut Plato, retorika penting sebagai model pendidikan, sarana mencapai kedudukan dalam pemerintahan, dan mempengaruhi rakyat. Beberapa karangannya yang terkenal : i.Nomoi yaitu tulisan berupa jawaban atas bukunya ‘Politikos’ yang mengupas tentang undang-undang. ii.Dialogues berbicara tentang pembuatan kerangka retorika yang dianggap benar yaitu berkaitan dengan kebenaran dan moral.
6.ARISTOTELES Menurut Aristoteles, tujuan retorika adalah membuktikan maksud pembicaraan atau menampakkan pembuktian. Ia menulis 3 jilid buku berjudul De Arte Rhetorica, yang diantaranya berisi 5 tahap penyusunan pidato.
Asumsi Tradisi Retorika
ASUMSI-ASUMSI TEORI RETORIKA
Ada 2 asumsi yang terdapat teori retorika, yaitu :
Public speaker atau pembicara yang efektif perlu mempertimbangkan khalayak mereka. Asumsi ini mengarah kepada konsep analisis khalayak (audience analysis).
Public speaker atau pembicara yang efektif menggunakan sejumlah bukti-bukti dalam presentasinya. Bukti-bukti yang dimaksudkan ini merujuk pada cara-cara persuasi yaitu ethos, pathos dan logos.4
Ethos adalah karakter, inteligensi dan niat baik yang dipersepsikan dari seorang pembicara. Hal ini bisa di pelajari dan dibiasakan.
Logos adalah bukti logis atau penggunaan argumen dan bukti, rasionalisasi dan wacana yang di gunakan dalam sebuah pidato.
Pathos adalah bukti emosional atau emosi yang dimunculkan dari para anggota khalayak. 2
Komentar
Posting Komentar